Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya
manusia yang berkualitas dan mampu berkompetisi dalam perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, sehingga pendidikan harus dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya untuk memperoleh hasil maksimal. Pendidikan hendaknya
dikelola, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal tersebut dapat
dicapai dengan terlaksananya pendidikan yang tepat waktu dan tepat guna
untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Sejalan dengan upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
sekolah merupakan lembaga formal penyelenggara pendidikan. Sekolah Dasar
(SD) sebagai salah satu lembaga formal dasar yang bernaung di bawah
Departemen Pendidikan Nasional mengemban misi dasar dalam memberikan
kontribusi untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan dilaksanakan dalam bentuk proses belajar mengajar yang
merupakan pelaksanaan dari kurikulum sekolah. Melalui kegiatan
pengajaran, siswa-siswi SD yang berada pada tahap operasi konkrit sudah
semestinya dibekali dengan ilmu pengetahuan dasar dan keterampilan dasar
yang dalam hal ini adalah mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum
SD/MI untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya pada jenjang
pendidikan selanjutnya.
Pengajaran di kelas tidak terlepas dari aktivitas belajar siswa. Melalui
aktivitas belajar tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengalaman
belajar sehingga proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna bagi
siswa. Pelaksanaannyapun harus dilaksanakan dengan pendekatan belajar
yang relevan dengan paradigma pendidikan sekarang.
Paradigma baru pendidikan sekarang ini lebih menekankan pada peserta
didik sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan
berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan
pengetahuan. Melalui paradigma baru tersebut diharapkan di kelas siswa
aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani menyampaikan gagasan dan
menerima gagasan dari orang lain dan memiliki kepercayaan diri yang
tinggi (Zamroni, 2000). Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)
merupakan pendekatan dalam pembelajaran matematika yang sesuai dengan
paradigma pendidikan sekarang. PMRI menginginkan adanya perubahan dalam
paradigma pembelajaran, yaitu dari paradigma mengajar menjadi paradigma
belajar (Marpaung, 2004).
PMRI selama ini merupakan sebuah pendekatan pembelajaran matematika yang
relatif baru dan belum semua kalangan dalam dunia pendidikan
mengenalnya. Selama beberapa tahun belakangan sampai sekarang. PMRI
telah diuji coba terbatas di kelas I, II dan III. Kemudian mulai tahun
pelajaran 2002/2003 baru dilakukan uji coba penuh di beberapa Sekolah
Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Indonesia dengan hasil yang
sangat menggembirakan. Saat ini pembelajaran matematika dengan
pendekatan realistik untuk kelas lainnya masih diujicobakan.
SD Islam Sabilal Muhtadin merupakan salah satu sekolah di Indonesia yang
telah melaksanakan pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik
di kelas I dan II sejak tahun pelajaran 2003/2004. Seperti halnya di
beberapa sekolah di Indonesia, pembelajaran matematika dengan pendekatan
realistik untuk kelas IV masih diujicobakan.
Pembelajaran matematika selama ini terlalu dipengaruhi pandangan bahwa
matematika adalah alat yang siap pakai. Pandangan ini mendorong guru
bersikap cenderung memberi tahu konsep/ sifat/ teorema dan cara
menggunakannya. Guru cenderung mentransfer pengetahuan yang dimiliki ke
pikiran anak dan anak menerimanya secara pasif dan tidak kritis.
Adakalanya siswa menjawab soal dengan benar namun mereka tidak dapat
mengungkapkan alasan atas jawaban mereka. Siswa dapat menggunakan rumus
tetapi tidak tahu dari mana asalnya rumus itu dan mengapa rumus itu
digunakan. Keadaan demikian mungkin terjadi karena di dalam proses
pembelajaran tersebut siswa kurang diberi kesempatan dalam mengungkapkan
ide-ide dan alasan jawaban mereka sehingga kurang terbiasa untuk
mengungkapkan ide-ide atau alasan dari jawabannya.
Perubahan cara berpikir yang perlu sejak awal diperhatikan ialah bahwa
hasil belajar siswa meruapakan tanggung jawab siswa sendiri. Artinya
bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi secara langsung oleh karakteristik
siswa sendiri dan pengalaman belajarnya. Tanggung jawab langsung guru
sebenarnya pada penciptaan kondisi belajar yang memungkinkan siswa
memperoleh pengalaman belajar yang baik (Marpaung, 2004). Pengalaman
belajar akan terbentuk apabila siswa ikut terlibat dalam pembelajaran
yang terlihat dari aktivitas belajarnya.
PMRI juga menekankan untuk membawa matematika pada pengajaran bermakna
dengan mengkaitkannya dalam kehidupan nyata sehari-hari yang bersifat
realistik. Siswa disajikan masalah-masalah kontekstual, yaitu
masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi realistik. Kata realistik
disini dimaksudkan sebagai suatu situasi yang dapat dibayangkan oleh
siswa atau menggambarkan situasi dalam dunia nyata (Zulkarnain, 2002).
Matematika Realistik (MR) adalah matematika yang disajikan sebagai
suatu proses kegiatan manusia, bukan sebagai produk jadi. Bahan
pelajaran yang disajikan melalui bahan cerita yang sesuai dengan
lingkungan siswa (kontekstual) (Zigma Edisi, 14, 12 Oktober 2007)
Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa Realistic Mathematics
Education (PMR) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan
matematika. Teori PMR pertama kali diperkenalkan dan
dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal.
Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi
pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa (Slettenhaar, 2000).
Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur
pemecahan informal, sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep
matematisasi (http/darsusianto-blogspot. Com 2007/08/matematika
realistik/html). Adapun konsep pendidikan matematika realistik tentang
siswa antara lain sebagai berikut:Siswa memiliki seperangkat konsep
alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar
selanjutnya;Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk
pengetahuan itu untuk dirinya sendiri;Pembentukan pengetahuan merupakan
proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi,
penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan; Pengetahuan baru yang
dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam
pengalaman; Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin
mampu memahami dan mengerjakan matematik (Zigma Edisi 10, 27 Juni 2007)
Pengajaran matematika dengan pendekatan Pendidikan Matematika
Realistik meliputi aspek-aspek berikut :
Memulai pelajaran dengan
mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan
pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat
dalam pelajaran secara bermakna;
Permasalahan yang diberikan tentu harus
diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran
tersebut Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik
secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan (De Lange,
1995)
Berdasarkan uraian aspek-aspek di atas dapat disimpulkan bahwa
pendekatan matematika realistik berlangsung secara interaktif, siswa
mengajukan beberapa pertanyaan kepada guru, dan memberikan alasan
terhadap pertanyaan atau jawaban yang diberikannya, memahami jawaban
temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan
ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain dan melakukan
refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil
pelajaran.
Pendekatan Matematika Realistik (PMR) mempuinyai tiga prinsip kunci, yaitu :
- Guided Reinvention (menemukan kembali)/progressive Mathematizing
(matematesasi progresif), yakni peserta didik diberikan kesempatan untuk
mengalami proses yang sama sebagaimana konsep-konsep matematika
ditemukan. Pembelajaran dimulai dengan suatu masalah kontekstual atau
realistik yang selanjutnya melalui aktifitas siswa dikharapkan menemukan
“kembali” sifat, defenisi, teorema atau prosedur-prosedur.
- Didaktical Phenomenology (fenomena didaktik). Situasi-situasi yang
diberikan dalam suatu topik matematika atas dua pertimbangan, yaitu
melihat kemungkinan aplikasi dalam pengajaran dan sebagai titik tolak
dalam proses matematika.
- Self-developed Models (pengembangan model sendiri); kegiatan ini
berperan sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika
formal. Model dibuat siswa sendiri dalam memecahkan masalah. Model pada
awalnya adalah suatu model dari situasi yang dikenal (akrab) dengan
siswa. Dengan suatu proses generalisasi dan formalisasi, model tersebut
akhinrya menjadi suatu model sesuai penalaran matematika (Anonim, tt)
Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) memiliki 5 karakteristik, yaitu :
- Menggunakan konteks, Konteks yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lingkuingan keseharian yang nyata (yang dikenal) siswa.
- Menggunakan model, Istilah model berkaitan dengan model situasi dan
model matematik yang dikembangkan oleh siswa sendiri (self developed
models). Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan
masalah. Generalisasi dan formalisasi model tersebut akan berubah
menjadi model-of masalah tersebut. Melalui penalaran matematik model-of
akan bergeser menjadi model-for masalah yang sejenis
(http/darsusianto-blogspot. Com 2007/08/matematika realistik/html).
- Menggunakan kontribusi murid, Kontribusi yang besar pada proses
belajar mengajar diharapkan dan konstruksi peserta didik sendiri yang
mengarahkan mereka dari metode informai mereka ke arah yang lebih formal
atau baku.
- Menggunakan Interaktif, Interaksi antar siswa dengan guru merupakan
hal yang mendasar dalam PMR. Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi
yang berupa penjelasan, pembenaran, setuju, tidak, pertanyaan atau
refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk
informal siswa.
- Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya, Topik-topik yang
peneliti berikan dikaitkan dan diintegrasikan sehingga memunculkan
pemahaman suatu konsep atau operasi secara terpadu, agar hal tersebut
dapat memberikan kemungkinan efisien dalam mengajarkan beberapa topik
pelajaran.
Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Matematika Realistik
- Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran Matematika Realistik adalah sebagai berikut :
- Memotivasi siswa (memfokuskan perhatian siswa)
- Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran
- Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi
siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga
siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna
- Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut;
- Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan
- Pengajaran berlangsung secara interaktif, siswa menjelaskan dan
memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban
temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan
ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain; dan
melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap
hasil pelajaran.